True knowledge does not melt beneath the desert sun.
Nima Sekhmar berasal dari keluarga peneliti dan alkimis di Silk City, Scalding Sands. Keluarganya bertugas menjaga serta mereplikasi peninggalan leluhur. Kakek buyutnya dikenal sebagai pencipta replika karpet terbang milik Sorcerer of the Sands, salah satu artefak legendaris dari masa lampau.
Sejak kecil, Nima tumbuh di bawah bayang-bayang catatan ilmiah leluhurnya. Ia bertekad membuktikan bahwa generasi Sekhmar berikutnya mampu melampaui batas para pendahulu.
Nima tiba di NRC pada tahun yang sama dengan Jamil (kemudian disusul Kalim), dan kini satu kelas dengan Jamil (Class C)
| $\LARGE\textsf{Overview}$ |
|---|

| Name | Nima Sekhmar |
|---|---|
| Birthday | December 13 |
| Age | 17 yrs |
| Height | 160cm |
| Homeland | Scalding Sands |
| Grade | Sophomore |
| Class | Class C (No. 13) |
| Club | Literary Club |
| Best Subject | Alchemy |
| Favourite Food | Kebab |
| Least Favourite Drink | Strawberry juice |

Dari luar, Nima tampak kalem, banyak berpikir, dan sering kali sarkastik tanpa sadar. Ia kerap disalahpahami sebagai sosok dingin, padahal sebenarnya ia hanya kesulitan memahami emosi orang lain, bahkan emosinya sendiri.
Meski introvert, Nima cukup ekspresif terutama lewat tatapan dan gerak alisnya. Mulutnya mungkin diam, tetapi wajahnya sering kali sudah lebih jujur.
Sisi “villain” Nima muncul dari rasa ingin tahu yang ekstrem. Ia bereksperimen dengan ramuan berisiko tanpa memikirkan konsekuensi, bahkan tak segan menggunakan murid Scarabia sebagai kelinci percobaan. Jamil sering dibuat kesal karena harus membereskan kekacauannya.
Suatu kali, Nima menciptakan ramuan yang justru memperburuk kondisi teman sekelasnya. Alih-alih panik, Nima hanya menatap hasilnya sambil berkata: “Menarik. Jadi efeknya tidak seperti yang kuperkirakan.” Akibat dari kejadian itu, Nima harus membayar denda dan ia kena skorsing selama seminggu.
Nima sering tenggelam dalam meracik ramuan alkimia hingga lupa tidur. Walau terlihat santai, pikirannya terus bekerja.
Rasa penasarannya terhadap pengetahuan kerap kali menumbuhkan sisi kejam dalam dirinya, sisi yang bahkan tidak selalu bisa ia kendalikan.